TROTOIRKU SAYANG, TROTOIRKU MALANG …
Awalnya trotoir diperuntukkan bagi pejalan kaki (pedestrian), dirancang secara teliti dengan mempertimbangkan keselamatan penggunanya dari bahaya lalu lintas kendaraan.
Kehidupan urban tidaklah memiliki “jiwa” jika tanpa manusia yang berkegiatan di dalamnya. Kendaraan hanyalah alat untuk mempermudah pergerakan, bukan elemen inti dari kehidupan kota. Karena itu jaringan jalan dibangun sebagai tulang punggungnya. Sebagai satu area publik seyogyanya koridor jalan merupakan milik bersama, digunakan secara bersama dengan mempertimbangkan karakter masing-masing penggunanya. Ada penggal untuk lajur kendaraan (bermotor), trotoir / pedestrian, saluran, tanaman baik sebagai elemen hiasan sekaligus buffer pengaman bagi pejalan kaki, serta elemen-elemen lain sesuai fungsinya.

Namun ketika fungsi-fungsi tersebut berubah, baik dengan alasan ekonomi ataupun keamanan, maka buyar sudah tujuan-tujuan mulia sesuai awalnya.
Keserakahan, egoisme, kekuasaan, kecongkakan, adalah perilaku yang mengingkari budaya kemanusiaan yang seharusnya dibangun bersama. Benarkah hal itu dikarenakan ketidaktahuan ? Atau pura-pura tidak tahu ? Naluri untuk bertahan hidup mengalahkan kewajiban untuk memelihara dan menggunakan milik bersama bagi kepentingan bersama pula.

Namun, bagaimana jika aparat yang seharusnya menjaga serta memelihara ketertiban (fisik) justru melupakan fungsi-fungsi bersama yang seharusnya dihormati ?
Banyak contoh lain yang menggambarkan perilaku egois dan lupa terhadap kepentingan bersama (umum). Jakarta … oh Jakarta …






